Kamis, Januari 01, 2009

PLC, Revolusi Internet Via Kabel Listrik



PLC, Revolusi Internet Via Kabel Listrik


Zaman Telah Berganti

Saatnya berinternet memakai PLC. Pengguna internet di Indonesia tergolong rendah. Dengan jumlah penduduk lebih dari 230 juta jiwa, pengguna internetnya hanya sekitar 5 juta orang. Atau kurang dari dua persen jumlah penduduk. Jangan coba-coba membandingkan dengan negara tetangga di Asia. Karena hasilnya akan sangat njomplang. Tengok saja Korea Selatan. Lebih dari separuh negara berpenduduk sekitar 47 juta jiwa itu menggunakan internet. Yakni sekitar 25 juta orang alias lima kali jumlah pengguna internet di Indonesia.

Jika membandingkannya dengan Jepang, perbedaannya akan semakin kentara. Negeri berpenduduk sekitar 130 juta jiwa itu, pengguna internetnya mencapai sekitar 60 juta orang. Atau 12 kali pengguna internet Indonesia.

Mahalnya tarif koneksi internet disinyalir menjadi biang utama rendahnya pengguna internet di Indonesia. Tarif koneksi yang mahal banyak faktornya. Salah satunya yaitu penetrasi telepon yang amat rendah. Yakni hanya 3% - 4% dari total jumlah penduduk. Padahal, kebanyakan akses internet di negeri ini menggunakan jaringan telepon.

Faktor lainnya, mahalnya biaya pulsa telepon, tidak meratanya distribusi jaringan akses, dan mahalnya sewa bandwidth ke Internet. Akibatnya, masyarakat Indonesia memandang internet sebagai barang lux. Sehingga menjadikannya prioritas terakhir dalam pemenuhan anggaran.


Power Line Communication (PLC)

Tapi kini, mahalnya tarif koneksi bisa tinggal kenangan. Karena ada teknologi bernama Power Line Communication (PLC). Dengan PLC, sinyal-sinyal telekomunikasi (data, gambar, voice) dapat ditumpangkan atau diinjeksikan ke jaringan listrik tegangan rendah (1-30 MHz) dari jaringan data eksternal. Analoginya, arus listrik mengalir seperti air laut yang menghasilkan gelombang dan buih. Gelombang adalah arusnya, sedangkan buih berupa noisenya. Noise inilah yang dimanfaatkan oleh Teknologi PLC untuk menghantarkan sinyal suara dan data.


Cara Kerja Power Line Communication (PLC)

Teknologi ini mentransmisikan data dan voice melewati medan elektromagnetik yang dihasilkan tegangan listrik. Perangkat Modem listrik dalam mentransmisikan data dan voice bekerja pada tegangan antara 85 Volt s.d. 285 Volt. Adapun konsumsi listrik dari perangkat modem listrik sendiri kurang dari 10 Watt.

Perangkat yang dibutuhkan pelanggan juga tidak banyak. Selain komputer, pelanggan cuma membutuhkan modem listrik dan NIC (LAN Card/Ethernet Card) yang di install pada PC. Jadi, hanya dengan melakukan sambungan dari komputer dan sebuah modem PLC ke stop-kontak listrik (AC power outlet), pelanggan mendapatkan koneksi high speed internet.


Manfaat Power Line Communication (PLC)

Dengan menggunakan PLC, banyak keuntungan yang dapat diraih. Jelas, tidak lagi diperlukan saluran telepon untuk internet. Cukup dengan kabel listrik dan modem PLC, maka koneksi internet broadband non-stop pun tersedia. Keuntungan lainnya, kemudahan koneksi internet 24 jam non stop tanpa harus terganggu dengan line telepon sibuk. Berinternet pun menjadi lebih fleksibel. Koneksi internet dapat dilakukan dimana saja, cukup dengan melakukan sambungan dari komputer ke stop-kontak listrik.

Selain itu, bandwith-nya bisa mencapai 45 Mbps. Dengan besarnya bandwith, maka berbagai aktivitas berinternet ria seperti mengirim e-mail, browsing, bermain game on-line, chatting, shopping on line, dapat dilakukan dengan cepat. Dalam perkembangannya, kabel listrik tak hanya dapat dimanfaatkan mengakses internet saja, namun juga dapat dimanfaatkan sebagai telepon atau pembacaan meteran.


Di Indonesia………????

Berbagai negara telah menerapkan dan memasarkan teknologi PLC. Sebut saja misalnya beberapa perusahaan yang memasarkan produk itu seperti DPL (Inggris), Ascom (Swiss), DS2 (Spanyol), Mainnet (Jerman), Planet atau (Taiwan).

Di Indonesia sendiri, PLN melalui anak perusahaannya, Indonesia Comnet Plus (Icon+) telah melakukan ujicoba untuk 20 user di Durentiga (Jakarta Selatan) dan untuk 400 user di Jakarta dan Bandung sekitar tahun 2002. Warga Duren Tiga terhitung sebagai penikmat PLC pertama di Indonesia. Namun dalam skala regional, tetangga dekat kita, warga Malaysia dan Singapura malah sudah beberapa tahun sebelumnya menikmati layanan komersial PLC di negaranya.

Kendati hasil uji coba tersebut sangat bagus, namun infrastruktur yang dibutuhkan masih sangat mahal. Hal ini disebabkan karena belum adanya jalur komunikasi yang digunakan antara gardu ke network provider-nya. Artinya, harus terlebih dahulu dipasang fiber optic dari gardu ke network provider. Jika ini dilakukan, secara perhitungan cost-nya masih terlalu besar.

Diperkirakan, besarnya biaya pemasangan tidak akan melebihi US$ 350 (sekitar Rp 3,17 juta). Angka investasi awal ini agaknya memang cukup tinggi, namun biaya bulanannya tampaknya akan sangat murah. Karena kabarnya tarifnya akan berlaku flat. Kisarannya antara Rp 300 ribu sampai Rp 350 ribu. Dengan tarif flat itu, pelanggan PLC dapat menggunakannya sepanjang bulan pembayaran (unlimited).


Awalnya Power Line Communication (PLC) dari Inggris

Kendati penelitian di luar negeri sudah berlangsung lama, namun solusi transfer data melalui kabel listrik ini baru ditemukan tahun 1994. Bulan Oktober 1997, Nortel dan Norweb Communications di Inggris resmi mengumumkan keberhasilan dan keberadaan penyediaan teknologi PLC.

Ceritanya, teknologi ini dikembangkan Dr. Paul Brown, salah seorang staf Norweb. Tahun 1991, Dr. Brown ditunjuk memimpin grup riset kecil di Open University, Inggris. Dia menyelidiki kelayakan telekomunikasi melalui kabel listrik. Dia menemukan bahwa kegagalan ilmuwan-ilmuwan sebelumnya karena faktor noise. Setiap kali listrik dinyalakan, sejumlah besar gelombang disturbansi listrik melewati kabel dan mengubah setiap transmisi data secara simultan.

Kemudian, Dr. Brown dan rekan-rekannya mencoba menggunakan sinyal-sinyal frekuensi tinggi, di atas frekuensi yang secara potensial mengubah noise. Tapi itu tak berlangsung mulus. Sinyal-sinyal frekuensi tinggi tidak mampu berjalan cukup jauh dan gaung (pantulan) dalam sistem dapat menenggelamkan sinyal-sinyal itu.

Lalu tim riset menggunakan lebih dari satu frekuensi dan mengirim data dalam bentuk paket-paket diskrit yang dipandu oleh beberapa bentuk sistem pensinyalan. Hasilnya, pada uji coba pilot project di sekolah-sekolah dasar di Manchester, laju sambungan internetnya sampai 1 Mbps (hampir 5 kali lebih cepat dari sambungan-sambungan ISDN yang telah ada).


Woww!***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar